Kamis, 06 Juni 2013

QUO VADIS - PENDIDIKAN KARAKTER



Tanggal 2 Mei lalu kita merayakan hari pendidikan, hari lahirnya seorang Ki Hajar Dewantara yang dinggap sebagai symbol pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu hak penting rakyat Indonesia  yang di maktubkan dalam Undang-Undang Dasar. UUD menyatakan bahwa Pendidikan merupakan hak setiap warga negara dan ditujukan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Menyikapi  bahwa mandat UUD atas pendidikan adalah menghasilkan generasi yang cerdas dan berkarakter mulia, maka pada beberapa waktu terakhir, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, mencanangkan pendidikan karakter dalam sistem pendidikan nasional. Pendidikan karakter ternyata buanlah hal yang mudah dirmuskan dan dilaksanakan.  Beberapa model pendidikan karakter tidak berhasil membentuk karakter sebagaiamana diharapkan.
Lebih luas, menyikapi beberapa kekurang berhasilan pengembangan pendidikan karakter,  mungkin dapat menunjukkan bahwa walaupun undang-undang dasar telah menggariskan keutamaan pendidikan karakter, namun kebijakan pendidikan kita belum menerjemahkan mandat itu.  Sebaliknya kebijakan pendidikan kita masih berorientasi kuantitas dibandingkan kualitas.  Pendidikan beroerientasi kuantitas akan memberikan nilai lebih tinggi berdasarkan banyakanya pertanyaan yang bisa dijawab. Orientasi berkebalikan dengan orientasi kualitas, dimana penilaian diadasarkan pada kreasi dan inovasi berdasarkan realitas lingkungan.
Pendidikan berkualitas adalah pendidikan yang tidak diorientasikan  pada keluaran saja tetapi diteruskan hingga impak/dampak. Paradigma pendidikan menyatakan pada hakekatnya pendidikan melibatkan serangkaian aspek yang dimulai dari Input – Proses – Output – Outcome – Impact.
Paradigma ini menyiratkan bahwa pendidikan yang berhasil mencapai cita-citanya adalah pendidikan yang mengelola Input dalam Proses yang baik dan Output dari proses itu diukur berdasarkan Luaran Outcomenya (seperti apa spesifikasinya) dan dampak dari keluaran itu pada diri lulusan dan lingkungan disekitarnya (Dampak).
Melihat penjelasan paradigma diatas, jelas bahwa bila kita menginginkan terbentuknya Karakter yang baik dari lulusan yang terukur dalam spesifikasi lulusan dan memberikan dampak yang baik pada perbaikan karakter bangsa, tentu kita (Pelaku Pendidikan) harus dengan serius bekerja mengelola Proses pendidikan.
Perkembangan program pendidikan Karakter dalam sistem pendidikan kita bukan hanya terjadi dalam beberapa waktu belakangan. Menurut catatan, program pendidikan karakter telah hadir sejak hadirnya pendidikan bagi kaum pribumi masa Hindia Belanda.  Dimulai dari cetusan dan program Politik Etis (1901) yang memuat edukasi, irigasi dan transmigrasi sebagai bagian dari politik balas budi yang diperjuangkan Van de Venter. 
Pendidikan karakter pada masa itu berjalan sesuai kebutuhan pada masa itu, yang bukan semata-mata ditujukan untuk mencerdasakan kehidupan bangsa.  Pada masa itu, pendidikan diperlukan untuk memperoleh sumberdaya manusia.  Perbedaan warna kulit dalam sistem pendidikan menghasilkan produk pendidikan yang memiliki karakter Rasis. Pada periode ini pendidikan dibedakan untuk tiga suku bangsa yakni, Eropa, Asia Jauh (tionghoa) dan Pribumi.
Dengan karakternya, pendidikan saat itu sering dipandang sebagai sarana meningkatkan Derajat atau Status Sosial bagi sekelompok orang. Proses pendidikan yang rasis dan berorientasi pada peningkatan derajat menyebabkan outcome karakter yang dihasilkan menjadi kolonialis, rasial, dan bagi sekelompok orang cenderung menggunakan nilai pendidikan sebagai sesuatu yang dipertahankan sebagaimana mempertahankan status sosialnya sebagai “tuan-tuan” bagi kelompok masyarakat lain (yang tidak berpendidikan). 
Tahun 1922, Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang dikenal dengan Ki Hajar Dewantara, mendirikan  Perguruan Taman Siswa untuk “mengcounter” konsep pendidikan pemerintah Hindia Belanda. Tujuan pendidikan taman siswa untuk mewujudkan mahasiswa Indosnesia yang Merdeka lahir dan bathinnya, selain menjadi pencerahan bagi konsep pendidikan pribumi, sekaligus mengesampingkan beberapa pendapat kaum revolusioner yang menggunakan pendidikan sebagai media perlawanan.
Pendidikan taman siswa menjunjung tinggi jiwa kekeluargaan yang bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan.  Hal tersebut di nyatakan dengan PANCADHARMA Taman Siswa yaitu ; Kodrat Alam (memperhatikan prinsip campur tangan Tuhan YME.), Kebudayaan (menerapkan teori Trikon), Kemerdekaan (memperhatikan potensi dan minat maing-masing individu dan kelompok), Kebangsaan (berorientasi pada keutuhan bangsa dengan berbagai ragam suku), dan Kemanusiaan (menjunjung harkat dan martabat setiap orang).
Sistem pendidikan ini menghasilkan karakter lulusan yang berjiwa gotong-royong, tahan dalam segala keadaan serta menghargai makna kemerdekaan yang tidak bergantung pada orang lain.
Selain Taman siswa, berbagai lingkungan pesantren dan agama lain, juga telah membangun sistem pendidikan yang mengedepankan karakter moral agama sebagai cita-cita pendidikan.  Outcome dari proses pendidikan ini telah pula mewarnai perjalanan sejarah  Bangsa Indonesia.  Karakter moral yang kuat, penghargaan yang baik terhadap orang lain menandai figur hasil pendidikan pesantren.  Tokoh tokoh hasil pendidikan pesarntern juga banyak muncul dan menjadi teladan yang baik bagi lingkungannya.
Setelah Kemerdekaan RI, paradigma pendidikan mulai berubah.  Berbagai arus baru mulai mewarnai sistem pendidikan. Arus liberalisasi yang mengkapitalisasi pendidikan dan alih alih kualitas yang mengedepankan tolok ukur material dalam menilai hasil pendidikan telah mewarnai pembentukan karakter lulusannya.  Karakter pragmatis, materialistis, ego yang tinggi dan cenderung kurang perduli terhadap lingkungannya merupakan warna baru karakter bangsa ini, sebagai hasil pendidikan.  Belum lagi integritas yang rendah, loyalitas yang rendah dan kecintaan pada bangsa yang semakin rapuh. Tentu tidak perlu diuraikan lebih jauh, bahwa pendidikan dan karakter yang dihasilkannya saat ini, bertanggung jawab pada pengkhianatan dan perilaku tidak terpuji (korupsi, penyuapan, kolusi, penindas) banyak tokoh-tokoh bangsa.
Menyikapi keprihatinan atas fenomena saat ini, pemerintah mulai melirik kembali muatan karakter dalam pendidikan nasional.  Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas meluncurkan 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter  yaitu , Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta tanah air, Menghargai prestasi, Bersahabat/komunikatif, Cinta Damai, Gemar membaca, Peduli lingkungan, Peduli social, Tanggung jawab.
Pendidikan karakter  telah menjadi perhatian berbagai negara dalam rangka mempersiapkan generasi yang berkualitas, bukan hanya untuk kepentingan individu warga negara, tetapi juga untuk warga masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan karakter dapat diartikan sebagai the deliberate us of all dimensions of school life to foster optimal character development (usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan pendidikan untuk membantu pembentukan karakter secara optimal.
Pendidikan karakter memerlukan metode khusus yang tepat agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Di antara metode pembelajaran  yang sesuai adalah metode keteladanan,  metode pembiasaan, dan metode pujian dan hukuman.
Pada tahun 2002, UNITRI telah mengemukakan 8 Butir karakter yang dibangun dalam pendidikan karakter UNITRI BERDIKARI, yaitu; memBElajarkan diri, Rasional, Dedikasi, Inisiatif, Komunikasi, Andal, Religius, dan Integritas.
Karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). Berdasarkan ketiga komponen ini dapat dinyatakan bahwa karakter yang baik didukung oleh pengetahuan tentang kebaikan, keinginan untuk berbuat baik, dan melakukan perbuatan kebaikan
Keberhasilan Pendidikaan karakter akan bergantung bagaimana setiap pelaku pendidikan dalam hal ini pendidik dan peserta didik memahami peran masing-masing dan secara sadar membangun diri untuk mencapai cita-cita karakter yang diinginkan.  Membiasakan diri dalam karakter yang di cita-citakan dan membiasakan diri menjadi panutan atas karakter tersebut.
Mampukah kita sebagai pelaku pendidikan di UNITRI mewujudkan cita-cita Karakter itu sebagai hasil dari pendidikan kita di UNITRI ? ...... SEMOGA!.
  
Penulis adalah Bapak Ir. Aldon Sinaga, MMA

0 komentar:

Poskan Komentar